Wednesday, November 07, 2007

Pakis sikas (cycas rumphii)




Di rumah, ada pohon sikas (bahasa latinnya : cycas rumphii). Belum lama sih umurnya. Diimpor langsung dari Ponorogo ke Jakarta pas lebaran tahun 2006 yang lalu. Waktu itu, bawanya ke Jakarta masih dalam bentuk tunas. Sekarang udah mulai keluar daunnya. Walaupun cuma beberapa batang dan bentuknya kurang cantik alias mlungker2 gitu.
Ceritanya tunas ini dikasih (minta ding....bukan dikasih) sama saudaranya ayah yang di Ponorogo sana, yang kebetulan beliau adalah seorang penyuluh pertanian di Dinas Pertanian Kab. Ponorog. kebetulan di rumahnya banyak sekali tumbuh subur macam-macam pohon, mulai dari palem, pakis, bunga-bungaan sampe buah-buahan. Namanya juga orang pertanian, pasti orangnya bertangan dingin dalam urusan tanaman.
Pas sillaturrahmi lebaran tahun lalu ke rumahnya, kita dibawaiin tunasnya. Bawanya dari Ponorogo ke Jakarta penuh dengan perjuangan (cie..ciee...cieeee...bahasanya). Iya, soalnya kita berdua kan naik kereta, pas lebaran pula. Takutnya terjadi apa-apa sama si tunas pakis.
Untung tidak terjadi apa-apa dengan si tunas pakis pas sampe di Jakarta. Pakis langsung kita tanem di pot. Sesuai dengan petunjuk sang penyuluh, kalau perbandingan antara tanah:kompos adalah 1:1.

Hari demi hari berlalu, si tunas ini mulai keluar daunnya. Sempet khawatir juga karena dulu pernah daunnya tiba-tiba mengering semua. Dikiranya sudah mau mati tuh pakis. Tapi, kemudian daunnya bersemi kembali sampe sekarang.


Kebetulan di tabloid Nova, pernah memuat artikel tentang pakis sikas ini. Dulu saya mengiranya tanaman ini termasuk dalam golongan tumbuhan palem lho.
Saya copy paste artikelnya dari Nova online :

Sikas
TANAMAN KUNO YANG TETAP DIGEMARI

Konon, ribuan tahun lalu, tanaman ini adalah kegemaran dinosaurus. Sampai sekarang tanaman sikas masih mudah ditemui, meski orang sering salah kaprah, dengan menyebutnya sebagai tanaman pakis, atau palem.

Pecinta tanaman pasti sudah tak asing lagi dengan tanaman Sikas. Selintas bentuknya mirip palem. Banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Karena morfologinya yang mirip pakis, banyak juga yang menyebutnya pakis haji. Secara sepintas batang dan daunnya mirip palem.

Tanaman ini termasuk famili Cycadaceae, dan terdiri lebih dari 90-an spesies. Tanaman ini tergolong tanaman sangat kuno, karena telah ada sejak ribuan tahun lalu. Banyak jurnal ilmiah yang mengaitkan tanaman ini dengan jaman Jurrasic yang terjadi ratusan ribu tahun yang lalu.

Secara umum daun sikas berwarna hijau, bentuknya menyerupai bulu dan tumbuh mengarah ke luar dari batang. Panjang daun sangat bervariasi, tergantung dari jenis Sikas. Tingginya beragam. Untuk tanaman hobi biasanya tak lebih dari 3 meter. Selain bentuk Sikas yang umum, ada juga Sikas yang mengalami kelainan, seperti Sikas albino yang dimiliki NA Flona. "Yah sesuai namanya, daun sikas ini tidak berwarna hijau, melainkan albino," kata Santri dari NA Flona.

Masih Mahal
Tak sulit untuk menanam Sikas, baik sebagai tanaman indoor maupun outdoor. Terutama jika media tanam yang digunakan adalah tanah merah. Hanya saja untuk mendapatkan tanah ini biasanya ada di pinggiran kota. "Boleh juga ditambahi pasir malang di bagian atas tanah, agar saat disiram tanahnya tidak becek dan mengotori pot," jelas Santri sambil mengatakan keindahan Sikas selain terletak di daun juga di bonggol. "Ya, seperti Adenium, Sikas juga diminati karena bonggolnya. Selain itu daunnya makin ke atas dan bentuknya beraturan."

Salah satu alasan kenapa orang menyukai Sikas karena daunnya teratur dan rapi. "Sikas bisa tumbuh besar, cuma dalam waktu yang agak lama. Bahkan lebih lama dari pohon rambutan." Sebagai gambaran, dalam sebulan Sikas hanya mengeluarkan daun sebesar jarum. "Setelah itu baru daunnya agak mekar. Makanya harganya mahal karena tumbuhnya agak lama."

Karena lama berkembang tadi, untuk tanaman setinggi 30 cm saja perlu dua tahun untuk berkembang sampai memiliki bongol sekitar diameter 5 cm. "Semakin besar bonggolnya harganya pun semakin mahal. Dengan tinggi di bawah 1 meter harga mencapai Rp 250 ribu. Lebih dari itu, bisa sampai satu jutaan."

Sikat Kutu
Meski sulit dibudidayakan, perawatan Sikas sangat gampang. "Kena panas atau hujan tidak berpengaruh, meskipun sebenarnya lebih suka panas. Hanya saja, daunnya sering terserang penyakit seperti kutu putih. Jangan dimusnahkan dengan air saja, tapi memerlukan obat tertentu pembasmi hama," jelas Santri.

Jangan sekalipun sembarangan memakai pestisida untuk membasmi hama, karena bisa merusak daunnya. "Biasanya karena tak sabar, tanaman yang kena kutu dianggap sudah mati dan dibuang. Harusnya dibersihkan dengan cara menyikat kutunya. Meski agak lama, tapi dijamin bakal keluar pucuknya lagi."

Perbanyakan Sikas dilakukan dengan cara vegetatif dan biji. Tapi ada juga dari anakan yaitu dari tunas yang keluar dari samping batang. Agar tumbuh lebih baik, Santri menyarankan agar tidak menyiram Sikas setiap hari. "Cukup tiga kali dalam seminggu saja disiram."

FAKTA SIKAS
- Cara memilih Sikas yang bagus, cari bonggol yang besar dan daun yang tidak begitu panjang.
- Indonesia memiliki satu jenis Sikas asli Indonesia, yaitu Cycas rumphii.
- Selain cantik, hampir semua tanaman Sikas bermanfaat sebagai tanaman obat yaitu menyembuhkan berbagai penyakit. Mulai dari darah tinggi, TBC, dan sakit lambung.





Koleksi: NA Flona, Karang Mulya Rt 02/Rt 03, Karang Tengah, Ciledug, Tangerang (021 7336770).
Dimuat di Tabloid Nova edisi No. 1072 Tahun XVIII