Tuesday, October 23, 2007

Foto Falih - Idul Fitri 1428 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H

Thursday, October 04, 2007

Bule Nyemplung (di Monas)


Tanggal 1 Oktober ini, seperti biasa bangsa kita memperingati hari kesaktian Pancasila. Yang terkait dengan peringatan ini adalah (tentu kita semua pernah menyaksikannya di film yang biasa di putar setiap tanggal 30 September, yang sekarang kayaknya tidak lagi diputar di TV) tentang penangkapan dan pembantaian para Jendral yang kemudian jenazahnya dimasukkan ke dalam lubang buaya.

Sebenarnya, cerita berikut ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan peristiwa di atas, Cuma peristiwanya kok ya bertepatan dengan tanggal 30 September. Sebenarnya da kaitannya sih…, kalau cerita di atas tentang lubang buaya, nah kalau cerita berikut adalah tentang lubang got (tepatnya lubang got di Monas yang kemarin membawa korban).

Ceritanya, Sabtu kemarin ayah dan bunda mau nyoba belajar poto2 di sekitaran Monas. Dari Depok naik kereta jam 06.30, turun di Gambir. Nyampe di Monas, kebetulan kita masuk melalui gerbang yang berdekatan dengan stasiun gambir. Pas di gerbang itu kita barengan dua orang bule cewek+cowok, yang dari ngomongnya sih kayaknya orang Prancis. Kedua orang itu menenteng kamera masing-masing, sibuk moto2 sendiri2. Kebetulan di sebelah kanan jalan masuk, ada beberapa pohon yang bunganya tampak begitu menarik. Si bule cewek itu kelihatannya sangat tertarik dengan bunga2 itu, mungkin karena di negaranya sana nggak ada ya bunga seperti itu. Si bule cewek pun beberapa saat kemudian tenggelam dalam keasikan memotret bunga-bunga itu, sedangkan si bule cowok asik sendiri dengan kameranya dan sudah lumayan jauh jaraknya dari si bule cewek tadi.

Kita sendiri pun lagi asik ngambil obyek foto dan jarak kita nggak jauh dari si bule cewek tadi, tiba-tiba dari arah sebelah kanan ada suara yang mengejutakan. “Gubrak!”. Ternyata oh ternyata….si bule cewek tadi jatuh kecemplung got. Kebetulan di bawah pohon (Kamboja kalau gak salah) itu ada lubang got (yang gotnya lumayan dalemnya) yang tidak ditutup. Dari jauh lubang itu gak kelihatan sama sekali. Kalau mata nggak awas, bisa2 kecemplung juga deh…

Melihat kejadian itu, kita berdua langsung berlari ke arah lubang itu. Si mbak bule itu sudah glagepan (udah minum air got kali ya dia…..hooooeeekk!). Kebetulan yang deket dengan kejadian perkara waktu itu ya cuma kita berdua. Dengan sekuat tenaga kita coba menarik tangan si mbak bule out, tapi kok ya beratnya minta ampun. Untung ada satpam di dekat situ yang bisa kita mintain tolong, jadilah ayah sama satpam itu mengentaskan si mbak bule itu dari kubangan. Pas udah berhasil dientaskan (he.. he.. he..), si mbak bule itu tubuhnya kelihatan kotor banget…dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bau pula, maklumlah, namanya juga kecemplung got. Rupanya, kamera si mbak itu terlepas dari genggamannya pas jatuh dan tertinggal di dalam got itu. Jadilah orang-orang pada ngrumpul di situ, berusaha mengambil kamera si mabk bule itu. Dan untungnya kameranya berhasil diambil. Sebenernya, ada niatan untuk ngambil gambar mbak bule itu, tapi kok ya nggak tega. Kasihan….Lagian tangan juga kotor, bau comberan gara2 narik si mbak bule itu.

Apes tenan nasibmu mbak bule….mbak bule… Habis itu, mereka berdua nyari toilet di deket stasiun gambir, kayaknya mereka gak jadi poto2. Gimana mau foto2, rupane si cewek bule itu udah gak genah ngono…

Saran juga untuk Dinas PU atau Dinas Pertamanan atau siapa pun yang ngurus taman di sekitar Monas itu, tolong segera ditutup lubang itu, agar tidak jatuh korban berikutnya.

Cuti Bersama vs Perampasan Hak Cuti Tahunan

Dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2007, Nomor Kep.326/MEN/X/2007 dan Nomor SKB/10/M.PAN/10/2007 tanggal 1 Oktober 2007 tentang Perubahan Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 481 Tahun 2006, Nomor KEP.281/MEN/VII/2006 dan Nomor SKB/03/M.PAN/7/2006 tanggal 24 Juli 2006 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2007, mau nggak mau harus mengubah planning buat mudik yang telah disusun jauh-jauh hari sebelumnya.

Dalam SKB tiga menteri terdahulu disebutkan bahwa cuti bersama untuk dalam rangka idul fitri 1 Syawal 1428 H adalah selama 3 hari (tgl 12, 15 dan 16 Oktober). Sedangkan cuti bersama untuk hari raya Idul Adha dan hari natal adalah selama 2 hari yaitu tanggal 21 dan 24 Desember 2007.

Setelah ada perubahan dengan SKB 3 menteri yang dikeluarkan tanggal 1 Oktober 2007 tersebut, cuti bersama Tahun 2007 sebelum dan sesudah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H menjadi 6 hari (tgl 12, 15 s.d. 19 Okober 2007), Cuti bersama sesudah Hari Raya Idul Adha dan sebelum hari Natal menjadi 3 hari (tgl 21,24, dan 26 Desember 2007), dan cuti bersama sebelum akhir tahun 2007 selama 1 hari (tgl 31 Desember 2007).

Mungkin, bagi sebagian orang, dengan perubahan SKB tersebut dianggap menguntungkan karena libur manjadi bertambah. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi saya pribadi khususnya. Bagi saya yang setiap lebaran selalu mudik ke kampung halaman, tentu untuk urusan mudik ini harus merencanakan jauh-jauh hari sebelumnya, dalam kaitannya dengan usaha mencari tiket kereta baik PP (untuk pulang maupun tiket perjalanan sekembalinya dari kampung halaman).

Untuk mencari tiket kereta api, khususnya untuk lebaran bukanlah suatu perkara yang mudah. Meskipun tiket sudah bisa dipesan 30 hari sebelum keberangkatan, tetap aja banyak terjadi praktek-praktek curang yang sangat merugikan calon pengguna jasa kereta api. Mulai dari ulah para calo maupun ulah “orang-orang dalam” PT KAI sendiri.

Seperti pengalaman tahun ini, kami merencanakan mudik ke kampung tanggal 10 Oktober 2007. Sesuai aturan pemesanan tiket untuk keberangkatan tgl 10 Oktober 2007, loket dibuka tgl 10 September 2007. Namun untuk mendapatkan tiket nggak segampang apa yang dibayangkan orang. Suami sampe harus ngantri malam hari sebelumnya, nginep, tidur beralaskan koran di stasiun gambir, dalam rangka mendapatkan antrian barisan depan. Untunglah tiket berhasil didapatkan. Ada memang beberapa orang yang gagal mendapatkan tiket, meskpun ia termasuk dalam barisan depan dalam antrian, dan sudah mengantri semalaman, namun tetap saja tiket diumumkan sudah terjual habis, tidak ada kursi yang tersisa walaupun loket baru dibuka beberapa menit saja. Sungguh ironis sekali…..Walaupun ada alterntif lain, tentu alternatif yang dipilih bisa saja memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Untuk balik ke Jakarta, kami merencanakan berangkat tgl 16 Oktober 2007, dengan mengacu pada ketentuan yang mengharuskan bahwa tgl 17 Oktober 2007 sudah harus kembali masuk kantor. Kembali kami harus berjuang untuk mendapatkan tiket balik. Berangkat jam 3 pagi dari rumah menuju stasiun gambir, sampai di stasiun sudah tampak antrian panjang. Beruntung masih mendapat barisan kedua karena ada loket yang baru dibuka pagi harinya (semula hanya 3 loket). Namun apa daya ketika tiba antriannya, tiket yang rencananya akan dibeli (KA Bima) dinyatakan sudah habis terjual. Aneh sekali…..padahal baru detik saja loket dibuka. Hal inilah yang sangat sulit diterima oleh akal. Bagaimana bisa gitu lho……Namun beruntung kami masih bisa mendapatkan alternatif KA lainnya (KA Gajayana) meskipun untuk itu harus merogoh kantong lebih dalam.

Ketika tiket untuk PP mudik sudah ada di genggaman, kami merasa sudah aman, no problem…. Tapi kok tiba-tiba keluar SKB tiga menteri yang merevisi kebijakan sebelumnya tentang cuti bersama. Pada kalang kabutlah semua, karena liburan menjadi diperpanjang. Banyak yang kemudian menjual tiketnya kembali.

Kami sudah merencanakan dari jauh2 hari sebelumnya untuk pulang kampung tgl 10 Oktober dengan pertimbangan bahwa lebaran tahun ini bisa saja berbeda, bisa tanggal 12 atau 13 Oktober. Makanya saya sudah merencanakan sebelumnya, bahwa saya mau nambah cuti 3 hari ( tgl 11-11 dan tgl 16 Oktober) -catat : cuti dengan seijin atasan, bukan mangkir-. Kebetulan sisa cuti tahunan saya untuk tahun ini masih tersisa 5 hari. Dengan adanya cuti bersama sisa jatah cuti saya yang dieman-eman dari dulu langsung habis. Namun apalah daya, rencana tinggal rencana. Jatah cuti saya jadi habis, hak cuti saya dirampas dengan dikeluarkannya SKB tiga menteri tersebut (karena kebijakan bahwa cuti bersama tetap mengurangi hak cuti tahunan pegawai).

Dengan dalih untuk mengurangi banyaknya pegawai (khususnya PNS) yang mangkir setelah lebaran, dibuatlah revisi SKB 3 menteri yang memperpanjang libur lebaran. Para pembuat kebijakan itu mungkin hanya memikirkan pegawai di bawah departemen mereka masing-masing, tanpa melihat pegawai di departemen lainnya. Bagi PNS yang masih suka mangkir kerja karena merasa kurang hari liburnya, juga bagi PNS yang dateng jam 10 pulang jam 12, revisi SKB tersebut mungkin membuat mereka jingkrak-jingkrak kegirangan. Ada juga departemen yang memberlakukan aturan bahwa cuti bersama tersebut tidak mengurangi jatah cuti bersama. Bagaimana bisa…..

Bagi saya, seorang PNS yang bekerja di suatu instansi pemerintah di bawah suatu departemen, yang sudah menerapkan sistem administrasi modern, bekerja di bagian yang mengedepankan pada pelayanan, hal tersebut tentu bertentangan dengan komitmen yang selama ini dipegang. Para pembuat kebijakan itu tidak menganggap bahwa masih banyak PNS yang memiliki integritas yang tinggi. Mereka hanya mengakomodasi para pemalas!

Dengan banyak libur, tentu kegiatan pelayanan akan terganggu. Bagi para pembuat kebijakan itu, dengan banyaknya libur, dianggap akan meningkatkan efektifitas. Bagaimana kegiatan perekonomian bisa efektif, kalau bank-bank, kantor-kantor banyak yang tutup, tidak ada kegiatan apapun di bursa efek, pabrik-pabrik banyak yang tidak beroperasi. Menurut pendapat saya pribadi, libur panjang ini hanya proses pemborosan dan pemiskinan saja. Bagaimana tidak, dengan banyaknya libur, warga masyarakat akan cenderung konsumtif dan menghambur-hamburkan uang. Bagi oarnag yang banyak duit sih nggak masalah ya, tapi bagaimana dengan mereka yang berekonomi pas-pasan?

Belum lagi kebijakan yang dikeluarkan secara mendadak. Tentu akan merubah total rencana perjalanan mudik (bagi yang menggunakan kendaraan umum) yang telah disusun jauh hari sebelumnya. Untuk mendapatkan tiket mudik di hari-hari menjelang lebaran begini, tentu bukanlah perkara yang mudah. Kalaupun dapat, tentu dengan biaya yang sangat mahal.

Saya sangat tidak memahami apa yang ada di otak para pembuat kebijakan itu. Mereka sepertinya hanya mementingkan keuntungan golongan mereka sendiri, tanpa memikirkan bagaimana susah dan ribetnya golongan masyarakat lainnya akibat kebijakan yang telah mereka buat, dengan dalih-dalih yang nggak masuk di akal.

Dalam hal ini, saya memang nggak bisa berbuat banyak ya. Karena saya sendiri hanya bawahan yang menjalankan apa yang diperintahkan atasan. Saya hanya bisa berharap agar para pembuat kebijakan itu memikirkan akibat jangka panjang dari kebijakan yang mereka buat, bukan hanya akibat jangka pendek saja yang dipikirkan. Kalau perlu cabut saja kebijakan tentang cuti bersama ini, karena hanya menimbulkan ketidakadilan, dimana dengan adanya cuti bersama ini saya merasa dirampas hak cuti saya dan saya mau nggak mau dipaksa untuk cuti. Padahal tidak semua orang mempunyai kepentingan cuti yang sama, karena tiap pegawai punya kepentingan masing-masing.

Saya hanya bisa berdoa, “Ya…Alloh, bukakanlah hati para pemimpin kami!...”.

#curahan hati seorang pegawai yang terampas hak cutinya#

Wednesday, October 03, 2007

Orang Biasa Yang Luar Biasa

Biasa diartikan sebagai sediakala (yang sudah-sudah, tidak menyalahi adat, tidak aneh). Orang biasa berarti orang kebanyakan. Dialah manusia yang berperilaku ‘apa adanya’ sesuai dengan tuntutan-Nya dan Rasulnya.

Orang biasa merupakan orang yang tidak mempersulit dirinya sendiri. Yakni dengan tidak mempergunakan seribu (bahasa) topeng semata-mata dalam hidupnya. Dan percayalah, sesungguhnya orang yang memperbudak dirinya –dengan topeng kehidupan–, maka ia akan diselimuti ketidak puasan hati, ketidak tentraman, kebingungan, ketakutan, dan kesunyian.

Namun, keberadaan topeng dalam kehidupan ini tentu masih ‘diperlukan’ bagi orang kebanyakan (baca: orang biasa). Baginya, topeng adalah hanya sebagai sarana untuk menjalankan perintah-Nya dan selalu mendekatkan diri, lagi tidak mempersekutukan-Nya. Singkatnya, ia tidak terpedaya oleh topeng yang digunakannya. Apalagi sampai enggan untuk menanggalkannya. Yang akhirnya, dapat menjauhkan dari predikat jadi orang biasa, karena kepura-puraan (topeng) itu telah memperdayanya. Naudzubillah min dzalik.

Betapa enaknya, jadi orang biasa. Pribadinya akan terasa senang (pada perasaan lidah, badan dan atau hati); sedap; nyaman dalam setiap menjalankan misi kehidupan di dunia yang fana ini. Dalam hal ini, Allah SWT menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw sendiri adalah manusia biasa.

Katakanlah: “Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya), ….” (QS. Fushshilat: 6-8).

Orang Berilmu
Orang berilmu berarti orang yang banyak ilmunya; berpengetahuan; pandai. Dengan ilmu, seseorang akan diberi cahaya dalam hidupnya. Ilmu laksana obor dalam kegelapan. Di sinilah, pentingnya ilmu dalam hidup manusia. Sehingga, pantas saja Rasulullah saw bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim laki-laki dan perempuan.”

Perilaku biasa ala orang berilmu, tentu akan berbeda dengan orang yang tak berilmu. Allah berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadillah: 11),

Imam Al Ghazali dalam Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, mengungkapkan bahwa derajat itu tergantung pada dekat dan jauhnya ilmu itu dari akherat (baca: ilmu agama Islam-Pen). Sebagaimana ilmu-ilmu syar’iyah mengungguli ilmu-ilmu lainnya, ilmu yang berkaitan dengan hakikat hukum-hukum syar’iyah mengungguli ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum dhahir. Orang yang faqih memutuskan berdasarkan dhahirnya, apakah hukumnya sah atau tidak, dan dibalik itu terdapat ilmu untuk mengetahui apakah ibadah diterima atau ditolak. Inilah perilaku biasa ala orang yang berilmu (ilmu-ilmu kesufian).

Adalah Ahmad bin Yahya berkata,

“Pada suatu hari Asy Syafi’i keluar dari pasar yang menjual lampu-lampu. Kemudian kami mengikutinya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mencela seorang laki-laki ahli ilmu.”

Kemudian Asy-Syafi’i menoleh kepada kami seraya berkata,

“Bersihkan pendengaran kalian dari mendengarkan omongan yang keji sebagaimana kalian membersihkan lidahmu dari mengucapkannya, karena pendengar itu bersekutu dengan orang yang mengucapkannya.”

Lebih jauh dari itu, biasa ala orang berilmu, maka ia akan memposisikan ilmunya semata-mata hanya dari Allah. Dan semakin banyak mereka menimba ilmu, hati kecilnya akan berkata,

“Maha Besar ilmu Allah itu!”

Hal ini seperti terungkap dalam QS. Al Israa’: 60, “…. Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia ….”

Jadi, biasa ala orang berilmu, ia tidak akan menjadi sombong, riya dan takabur dengan ilmu yang dimilikinya. Tapi, justru akan berusaha mengamalkan ilmunya dan sebagai sarana berbuat baik kepada sebanyak-banyaknya manusia.

Asy-Syafi’i berkata, “Seorang bijak menulis surat kepada seorang bijak.” Ia berkata, “Engkau telah diberi ilmu, maka jangan kotori ilmumu dengan kegelapan dosa-dosa sehingga engkau tetap dalam kegelapan disaat ahli ilmu diterangi oleh cahaya ilmu mereka.”

Secara demikian, biasa ala orang berilmu akan membatasi dirinya dalam memberikan informasi dengan cara tidak menyampaikan sesuatu di luar jangkauan akal lawan bicaranya. Hal ini seirama dengan sabda Rasulullah saw,

“Kami –para Nabi—diperintahkan agar memperlakukan manusia sesuai dengan kedudukannya dan berbicara kepada mereka sesuai dengan kemampuan akalnya,” dan “Apabila seseorang itu berbicara dengan orang lain dengan bahan pembicaraan yang berada diluar kemampuan akalnya berarti ia telah menyebarkan fitnah kepada sesamanya.”

Dalam bahasa lain, Imam Malik bin Anas mengungkapkan,

“Tidak pantas bagi seseorang alim berbicara tentang sesuatu ilmu di hadapan orang yang tidak mampu memikirkannya, sebab yang demikian itu sama artinya dengan merendahkan dan menghinakan derajat ilmu itu sendiri.”

Sesungguhnya orang-orang berilmu tidak akan memuji-muji dirinya sendiri, karena apabila seseorang telah memuji-muji dirinya, maka lenyaplah wibawanya. Ilmu itu bukanlah diukur dari banyaknya riwayat yang disampaikan seseorang, tetapi ia merupakan cahaya yang ditempatkan Allah dalam kalbunya. Betapa enaknya, bila kita mampu bersikap biasa ala orang berilmu seperti itu!

Akhirnya, kita berdoa kepada Allah SWT agar selalu dijauhkan dan dilindungi dari setiap tipu muslihat aksesoris dunia (seperti ilmu, harta, jabatan, gelar, dll) yang dapat menyesatkan hidup kita di dunia, lebih-lebih ia dapat menjadi bahan pemberat timbangan keterpurukan hidup kita di akherat kelak. Amin. Wallahu’alam.

Mudik - Kisah Klasik Setahun Sekali

Banyak perjuangan untuk bisa mudik..dari yang cari tiket pulang..nginep di gambir (maklum kita termasuk roker - rombongan kereta)..cari tiket balik pun di bela2in harus antri dari jam 3 pagi....menyedihkan..tapi jg sebuah perjuangan untuk ketemu keluarga di kampung nun jauh di jawa timur..pokoke usaha gawe mudik iku di ikhlaskan saja ..lillahi ta'ala...semoga jg berpahala..:)
Tapi, gara-gara pengumuman pemerintah yang mendadak tentang cuti bersama..hampir-hampir semuanya jadi kacau balau..dari cuti yang udah abis (minus malah)..tapi skrg tinggal nunggu aja gmn jadinya ijin cutinya..kalo nggak di kasih ya tetep aja hrs pulang..kalo perlu bolos sekalian..krn tiket udah ke beli..kalo batalin jelas nggak mungkin, krn udah keluar duit buat bayar tiket..jadi rawe - rawe rantas malang - malang putung..apapun yang terjadi..yang penting tetep..M.U.D.I.K...........sekali mudik tetap mudiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkk......I'm coming hoooooooooooooommeeeee.....!!!!!

Monday, October 01, 2007

Syukur Itu Indah

''Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.'' (QS Al-Baqarah [2]: 243). Bisa jadi selama ini kita menjalani kehidupan tanpa rasa syukur. Kita merasa semua yang kita dapat sudah selayaknya menjadi hak kita. Karena itu, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita menjadi kesal. Mungkin juga kecewa, lalu mencela kehidupan.

Kita sering memusatkan perhatian pada keinginan kita, meski sebenarnya apa yang kita inginkan itu tidak kita butuhkan. Perhatian kita tidak berpusat pada apa yang telah menjadi milik kita. Akibatnya, kita masih merasa kurang dengan apa yang kita miliki saat ini. Selain itu, kita cenderung membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita menganggap orang lain lebih beruntung.

Seringkali kita menetapkan syarat yang sangat sulit untuk bisa kita penuhi agar bisa bahagia. Kita akan bahagia kalau mempunyai sesuatu yang dimiliki orang lain. Namun, begitu mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas dan menginginkan yang lebih lagi. Kita tak pernah merasa cukup dengan banyaknya harta yang kita miliki. Bila itu yang terjadi, kita memang belum bersyukur. Nafsu yang bersemayam di dalam hati menjadi berhala, dan justru kita sendiri yang menjadi budaknya. Inilah akar segala ketidakbahagiaan.

Orang yang tidak bersyukur adalah orang yang tidak berterima kasih. Hatinya dikuasai oleh keserakahan sehingga ia tidak peduli, sebanyak apa pun dia memperoleh, dia menjadi semakin serakah. Ketika hanya memperoleh sedikit daripada yang telah ia rencanakan, ia menolak untuk berterima kasih.

Dalam hidup ini, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita sukai. Karena itu, kita mesti belajar menyukai apa pun yang kita dapatkan. Kita belajar untuk mewujudkan perasaan syukur. Bersyukur adalah sikap menerima dengan lapang dada, senang, tulus, pasrah, dan berterima kasih.

Dengan demikian, syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Orang 'kaya' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tapi orang yang dapat menikmati apa pun yang mereka miliki. Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Dengan bersyukur, perasaan damai dan tenteram akan senantiasa meliputi diri kita. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Wallahu a'lam bish-shawab.